Pemerintah Kota Mojokerto menggelar salat istisqa di Lapangan Sasana Praja Abhipraya pada Jumat (23/10) di tengah kemarau panjang yang membuat suhu udara terasa panas. Kegiatan itu menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan sekaligus momentum meningkatkan keimanan dan memperbaiki diri.
Hujan Dinilai Tak Bisa Dihadirkan Hanya dengan Teknologi
Wakil Wali Kota Mojokerto, Rachman Sidharta Arisandi, dalam sambutannya menyatakan bahwa hujan merupakan rahmat Allah SWT yang tidak dapat dihadirkan hanya dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia. Karena itu, menurut dia, salat istisqa menjadi kesempatan untuk menengadahkan tangan dengan penuh kerendahan hati, memohon pertolongan dan ampunan-Nya.
Ia mengutip Surah Nuh ayat 10–11 yang mengingatkan manusia untuk memohon ampun kepada Allah SWT, yang dengan rahmat-Nya dapat menurunkan hujan sebagai keberkahan bagi kehidupan.
“Memohon hujan juga merupakan momentum untuk memperbaiki diri. Kita tidak pernah mengetahui doa siapa yang Allah kabulkan. Maka, jangan pernah merasa paling suci dan paling dekat dengan Allah,” tuturnya.
Ajakan Introspeksi bagi Jajaran Pemerintahan
Pria yang akrab disapa Cak Sandi itu mengajak seluruh pihak, terutama jajaran pemerintahan, melakukan introspeksi terhadap amanah yang diemban. Menurutnya, ikhtiar memohon rahmat Allah perlu disertai perilaku adil, kejujuran, serta kepedulian dalam memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Sebagai pemerintah, kami menyadari bahwa doa harus disertai dengan ikhtiar nyata melalui pengelolaan air, perawatan lingkungan, dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana. Hujan adalah rahmat yang kita mohonkan kepada Allah, tetapi menjaga bumi ini adalah amanah yang dititipkan kepada kita,” jelasnya.
Melalui salat istisqa tersebut, Pemerintah Kota Mojokerto berharap hujan yang membawa keberkahan segera turun, menyuburkan bumi, mencukupi kebutuhan air masyarakat, serta menjauhkan wilayah dari berbagai musibah.