Film Under the Skin (Di Bawah Kulit) arahan Jonathan Glazer dibahas dalam ulasan RakyatPos Network. Film fiksi ilmiah ini menampilkan Scarlett Johansson sebagai alien predator yang beroperasi di Skotlandia, bukan sebagai invasi makhluk luar angkasa yang lazim. Kisahnya diangkat dari novel Michel Faber, dengan Glazer bertindak sebagai sutradara dan turut menulis skenario.
Ulasan menggambarkan Under the Skin berjalan lambat dengan tampilan visual mewah, ditandai banyak pengambilan gambar panjang tanpa dialog. Latar Skotlandia yang mendung dan hujan disebut memperkuat atmosfer cerita tentang alien yang berusaha memahami manusia. Menurut penulis ulasan, gaya itu bisa membuat sebagian penonton bosan atau bingung, tetapi estetikanya menunjang cerita.
Misi Alien di Bumi
Film dibuka dengan Johansson belajar mengucapkan kata-kata, sementara seorang pria pengendara motor mengambil tubuh seorang wanita. Karakter Johansson lalu mengenakan pakaian wanita itu dan meneteskan air mata. Ulasan menilai adegan pembuka tidak memberi penjelasan utuh soal misi, tetapi mengisyaratkan bahwa alien itu datang ke Bumi untuk melakukan sesuatu: merayu pria dan mengolah bagian tubuh mereka menjadi zat yang bisa dipakai. Film ini juga membiarkan kemungkinan bahwa wanita tersebut adalah alien lain yang terlalu manusiawi dan sedang digantikan.
Pria pengendara motor memberi Johansson sebuah van. Van itu dipakai untuk berbelanja, membeli mantel bulu, dan berias agar menyatu dengan lingkungan. Ia kemudian menjemput pria-pria yang tidak curiga. Ulasan menyebut beberapa pertemuan terasa kasar untuk film yang dibintangi aktris terkenal, dan itu bukan kebetulan.
Di apartemen, Johansson menanggalkan pakaian dan memikat korbannya ke genangan cairan hitam tempat mereka menghilang. Pada adegan yang disebut paling surealis, salah satu korbannya hancur menjadi pita dan bagian-bagian tubuh yang lenyap di terowongan merah. Karakter Johansson dibandingkan dengan Cloak versi succubus yang membawa musuh ke dimensi gelap, tetapi penonton tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang dilakukan alien terhadap manusia.
Selain itu, karakter Johansson mengalami sejumlah petualangan lain dan banyak momen kemanusiaan sehari-hari, termasuk adegan jatuh di jalan yang kemudian menjadi meme populer.
Kamera Tersembunyi dan Dunia Nyata
Dalam wawancara tahun 2014 dengan The Upcoming, Glazer menjelaskan bahwa tim produksi membuat kamera mungil yang bisa diletakkan tersembunyi di dalam van. Johansson benar-benar mengemudikan van itu, sehingga kamera merekam penampilannya dan orang-orang yang ia temui tanpa kru besar yang sesak di lokasi. Glazer, yang juga menyutradarai Sexy Beast, ingin mempertemukan alien dengan dunia nyata, bukan dunia yang diatur rapi untuk seorang aktris.
Menurut ulasan, pendekatan itu menjelaskan salah satu momen paling aneh dalam film. Saat Johansson terjatuh di jalan, orang yang membantunya adalah orang yang lewat, bukan figuran yang telah dilatih untuk adegan penyelamatan. Ulasan menilai perbedaan itu penting: jalanan tampak berantakan dan akrab, sementara ruang gelap yang dituju para pria tampak mengikuti aturan yang sama sekali berbeda. Menurut ulasan, film ini tidak perlu menjelaskan teknologi alien untuk membuat transisi tersebut mengganggu.
Predator yang Belajar Takut
Ulasan menilai akting Johansson cukup baik. Meskipun tampil cantik, ia berhasil menampilkan kesan dunia lain, terutama melalui matanya. Tanpa banyak dialog, penonton dapat melihat bahwa karakternya berubah menjadi lebih manusiawi, yang juga berarti mengalami disorientasi dan ketakutan.
Semakin ia menjadi manusia, semakin besar risikonya. Penyesuaian diri bukan hal yang mungkin baginya. Ia terjepit antara identitas manusianya dan identitas aliennya, sementara kaumnya sendiri memburunya di pedesaan. Bagi penulis ulasan, perjalanan karakter Johansson menggambarkan betapa menyebalkannya manusia. Tema itu disebut bukan hal baru, tetapi disampaikan secara efektif dalam kemasan visual yang dinilai baru.
Rekomendasi Ulasan
Ulasan mengakui bahwa sebagian penonton bisa merasa bosan atau bingung dengan Under the Skin. Namun, film ini direkomendasikan bagi penonton yang menyukai fiksi ilmiah artistik atau film yang tidak menjelaskan semua hal di akhir. Penulis ulasan juga menyarankan penonton tidak melupakan brownies, sebelum menutup dengan candaan bahwa manusia seharusnya bersikap lebih baik kepada alien.