Pemerintah Kota Cimahi menggelar Workshop Kebencanaan pada Senin (19/10/2026) untuk mengasah kemampuan relawan dalam menghadapi situasi darurat. Kegiatan yang dipimpin Wali Kota Cimahi Ngatiyana itu membahas strategi penanggulangan risiko bencana sekaligus optimalisasi manajemen posko pengungsian darurat.
Langkah ini ditempuh karena Cimahi berada di dekat jalur aktif Sesar Lembang. Warga setempat dibekali kesiapan khusus agar mampu bertindak cepat dan tepat tanpa panik ketika terjadi kondisi darurat.
Menurut Ngatiyana, kunci utama meminimalkan dampak kerugian akibat bencana terletak pada kapasitas pemahaman masyarakat. “Edukasi ini adalah pondasi kita. Melalui penguatan ini, kita ingin memastikan seluruh elemen warga tahu persis apa yang harus diperbuat jika gempa bumi akibat Sesar Lembang, banjir, atau longsor melanda,” ujarnya di sela-sela kegiatan, seperti dilaporkan Radar Indonesia Online.
Relawan sebagai garda terdepan
Workshop tersebut menghadirkan pakar kebencanaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan kementerian terkait sebagai pemateri. Peserta yang disiagakan mencakup personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Cimahi serta Kelompok Siaga Bencana (KSB) yang tersebar di lima kelurahan.
Ngatiyana menilai Tagana dan KSB merupakan garda terdepan dalam rantai penyelamatan. Peran mereka dinilai krusial, mulai dari menyebarkan deteksi dini kewaspadaan hingga memimpin penanganan pertama di lapangan.
“Mereka harus matang secara pemahaman dan taktik operasional. Kesiapan relawan ini akan sangat membantu masyarakat luas ketika fase tanggap darurat berjalan,” tambahnya.
Antisipasi musim hujan
Selain mematangkan simulasi gempa bumi, Pemkot Cimahi juga menjalankan mitigasi bencana hidrometeorologi. Meski wilayah Cimahi masih berada di fase kemarau, warga diminta tidak terlena dan mulai bersiap menyambut musim penghujan.
Ngatiyana mengimbau masyarakat melakukan aksi preventif sejak dini, terutama menjaga kebersihan saluran drainase untuk menghindari ancaman banjir bandang dan tanah longsor. “Jangan menunggu air meluap baru bertindak. Antisipasi harus dimulai hari ini dengan memastikan tidak ada sumbatan sampah di aliran air sekitar kita,” tegasnya.
Aksi bersih-bersih lingkungan dirancang secara masif dengan melibatkan warga, jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Cimahi, dan relawan komunitas. Langkah terpadu itu diharapkan mampu memutus rantai risiko bencana secara menyeluruh dari hulu ke hilir.