Wakil Ketua BEM UI 2026 Fatima Azzahra mempertanyakan pendekatan pemerintah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kritik itu dijawab Budiman Sudjatmiko yang menjelaskan alasan negara ikut campur dalam penyediaan pangan bergizi bagi masyarakat.
Kemandirian pangan jadi sorotan
Menurut Fatima, masyarakat sebaiknya dapat memenuhi kebutuhan pangan bergizi secara mandiri. Ia juga menyoroti pembangunan dapur dan mekanisme distribusi makanan di sekolah yang dinilai belum menjawab persoalan kemandirian masyarakat.
Fatima berharap konsep kesejahteraan yang memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhannya sendiri dapat diterapkan pula pada program pemerintah lainnya.
Alasan intervensi negara
Menanggapi kritik tersebut, Budiman Sudjatmiko menyatakan intervensi negara dalam penyediaan pangan bergizi memiliki sejumlah tujuan. Salah satunya meningkatkan kehadiran siswa di sekolah.
Ia menjelaskan, makanan bergizi yang sesuai dengan selera anak dapat menjadi insentif bagi masyarakat untuk meningkatkan kehadiran siswa. Budiman meyakini pemenuhan gizi dan pendidikan tidak boleh saling bertentangan karena keduanya mendukung perkembangan anak.
Ia pun membuka kemungkinan penyesuaian sasaran program, termasuk pemberian makan dua kali sehari bagi masyarakat kelas bawah atau tertinggal serta daerah terdepan dan terluar atau 3T.
Harapan agar hasil terasa sekarang
Di sisi lain, Fatima menyoroti kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah yang kerap meminta mereka menunggu hasil dari program yang baru berjalan. Menurutnya, masyarakat sudah menantikan perubahan dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya, sehingga wajar bila mereka mengharapkan hasil yang dapat dirasakan saat ini.