Film Wicker, dongeng erotis yang menampilkan Olivia Colman sebagai perempuan nelayan dan Alexander Skarsgård sebagai pria yang ditenun dari ranting, menjadi perbincangan hangat di internet. Dalam kolomnya, kolumnis Guardian Emma Beddington menilai kegemparan itu bukan sekadar soal pesona bintang film, melainkan cermin heteropesimisme, yakni kekecewaan terhadap hubungan heteroseksual, sekaligus kerinduan akan pelarian.
Beddington menyatakan belum menonton Wicker, tetapi menilai trailernya menghibur dan premisnya membuat banyak orang, terutama perempuan, antusias. Dalam cerita itu, pria anyaman tersebut dibuat oleh seorang pembuat keranjang yang diperankan Peter Dinklage.
Pria anyaman yang “kuat seperti pohon”
Menurut Beddington, internet dibanjiri komentar terangsang soal Skarsgård, termasuk soal bentuk tubuhnya yang dalam gosip tetangga sang nelayan disebut “kuat seperti pohon dan sama kerasnya”. Ia juga menyoroti artikel majalah New York yang membahas apa yang terjadi jika seseorang berhubungan seks dengan penis dari anyaman. Seorang ginekolog menjawab pertanyaan itu dengan serius, antara lain soal serpihan kayu, pelumasan, dan kelayakan kondom, sambil tetap merendah: “Tetapi apa yang saya ketahui tentang anyaman? Tidak ada.”
Di balik hiburan itu, Beddington mempertanyakan maknanya. Menurut dia, sosok romantis nonmanusia sebenarnya bukan hal baru dan sudah lama populer.
Dari goblin hingga klip kertas
Beddington mencatat genre romansa tengah meledak, antara lain lewat sambutan besar terhadap karya terbaru Sarah J Maas yang disebutnya ratu romansa. Selera pembaca pun tampak tak terbatas pada kisah manusia yang menjalin hubungan dengan goblin, elf, minotaur, dan mothmen. Erotika tentang benda hidup kian liar: Beddington bercerita sempat mengikuti kuis online untuk menebak mana objek hasrat yang berasal dari karya budaya nyata dan mana yang mengarang, dan gagal total. Dari kuis itu ia mengetahui ada erotika sungguhan tentang pintu depan, virus corona, penggaruk taman, cangkir kopi, dan klip kertas Microsoft Word Clippy.
Mengapa tidak memilih anyaman?
Dari situ ia bertanya apakah manusia sudah lelah satu sama lain, dan apakah perempuan khususnya lelah dengan laki-laki. Kisah-kisah peringatan, mulai dari keengganan laki-laki berkomitmen hingga kebencian terhadap perempuan yang dipicu manosphere dan dimaafkan, menurut Beddington telah membentuk iklim heterofatalisme: kekecewaan atas beban yang tidak setara dan cobaan dalam hubungan heteroseksual.
Wicker, tulisnya, menampilkan heteropesimisme yang menarik: perempuan yang sudah menikah harus mengenakan kerah raksasa, sementara sebagian besar laki-laki tampak seperti orang tidak sopan. Karena itu, ia menilai anyaman masuk akal sebagai pilihan, sebab pasangan semacam itu tidak perlu dipelihara dan tidak menambah beban rumah tangga. Paling-paling, kata dia, cukup dibersihkan dengan kain lembap dan sedikit semir furnitur.
Tetap berwujud laki-laki
Namun Beddington mencatat satu hal: Skarsgård mungkin tampak seperti meja kopi tahun 70-an, tetapi tetap sepenuhnya laki-laki. Sosok itu berwujud laki-laki, memperbaiki barang, memakai celana panjang wol, dan memiliki penis. Bahkan novel erotika objek yang lebih banyak beredar, menurut majalah New York, “banyak sekali memasangkan perempuan manusia dengan makhluk dan benda laki-laki”.
Baginya, itu tidak mengherankan karena data terbaru Kantor Statistik Nasional (ONS) menunjukkan 93,7 persen perempuan Inggris mengidentifikasi diri sebagai heteroseksual. Dengan begitu, menurut Beddington, laporan mengenai heterofatalisme mungkin dibesar-besarkan.
Ia sendiri melihat demam Wicker dan sejenisnya sebagai tanda kerinduan untuk melarikan diri, keinginan agar hidup terasa lebih ringan, lebih seksi, dan lebih konyol. Ketika keadaan sedang buruk, ia menilai wajar membayangkan dunia yang memungkinkan segalanya, termasuk hubungan yang saling memuaskan, kesetaraan gender, dan seks dengan keju makaroni, yang juga nyata.
Kembali ke soal pelarian, Beddington lantas bertanya apa yang akan dipilih pembaca sebagai pasangan seksual selain darah dan daging jika tak ada benda di rumah yang membangkitkan gairah. Anyaman dinilainya terlalu gatal. Ia mengaku sudah menyusun daftar kasmir dan kue, tetapi tak ada yang cukup kokoh. Kue Natal, menurut dia, bisa jadi pilihan karena tahan lama dan lezat, dan jika pasangan buahnya mulai kepayahan, pinggirannya bisa digigit. Baginya itu memberi makna baru pada Stir-up Sunday.
Emma Beddington adalah kolumnis Guardian. Kolom tersebut juga membuka ruang bagi pembaca yang ingin mengirim tanggapan hingga 300 kata untuk kemungkinan dimuat di bagian surat.