Dua Lipa Curi Perhatian: Dari Panggung Sastra London hingga Gaya Trench Coat yang Bikin Publik Terpukau
Metro Indonesia – 25 Oktober 2026 | Nama Dua Lipa kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena karya musiknya, tetapi juga karena perannya sebagai kurator London Literature Festival tahun ini. Di tengah kesibukannya sebagai bintang pop kelas dunia, Dua Lipa membuktikan bahwa dirinya juga memiliki kecintaan mendalam terhadap dunia literasi. Melalui Service95 Book Club, platform budaya yang ia dirikan, penyanyi asal Inggris ini menghadirkan sebuah perbincangan langka dan istimewa bersama novelis kenamaan Zadie Smith di Royal Festival Hall, London Selatan.
Acara yang berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober tersebut sukses menyedot perhatian penuh penggemar. Southbank Centre sendiri menyebutnya sebagai perbincangan langka tentang sebuah novel, dan momen itu datang dengan pengakuan kecil yang menarik: Smith mengaku hingga kini masih belum membaca ulang novel debutnya, White Teeth. Alih-alih membahas teks baris demi baris, Dua Lipa dan Smith justru menelusuri karakter-karakter ikonik dalam novel tersebut, menimbang posisi mereka dalam latar akhir tahun tujuh puluhan, serta membayangkan bagaimana mereka akan diterjemahkan ke dalam iklim politik yang memanas saat ini.
Yang menarik, kedua perempuan di atas panggung itu sama-sama meraih ketenaran di usia muda. Zadie Smith baru berusia dua puluh empat tahun ketika White Teeth menjadikannya salah satu novelis debut paling dirayakan di generasinya. Sementara itu, Dua Lipa baru berusia dua puluh satu tahun ketika lagu “New Rules” melambungkan namanya menjadi bintang puncak tangga lagu. Titik awal yang sama inilah yang menjadi benang merah sepanjang sesi sore yang tiketnya sold out tersebut.
Di balik pembicaraan tentang karya sastra, terselip pula pertanyaan tentang warisan dan makna tumbuh dewasa di bawah sorotan publik. Isu kelas sosial juga menjadi topik yang dibahas. Kedua seniman ini tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang budaya ganda, dan mereka menelusuri ketertarikan bersama terhadap pertentangan-pertentangan yang berakar dari didikan tersebut. Mereka pun berbicara soal teknik berkarya, hingga menemukan satu titik yang menjembatani dunia pop dan novel: pentingnya mendengarkan, entah hasil akhirnya berupa lirik atau halaman prosa.
Bagi siapa pun yang mengikuti kehidupan paralel Dua Lipa sebagai pembaca, pasangan ini memang masuk akal. Ia mendirikan Service95 Book Club sebagai jantung literasi dari Service95, platform budayanya, dengan memilih bacaan bulanan dari rak bukunya sendiri dan duduk berbincang dengan penulisnya. Margaret Atwood, Olga Tokarczuk, dan Ocean Vuong adalah sebagian penulis yang pernah ia wawancarai. The Telegraph bahkan menyebutnya sebagai salah satu penentu selera sastra terkemuka di Inggris. Podcast klub bukunya juga masuk dalam daftar Best Podcasts of the Week versi The Guardian dan menduduki peringkat sebagai salah satu Best Video Podcasts Spotify 2025.
Kurasi Dua Lipa ini hadir di tahun yang simbolis. Festival yang kini memasuki edisi ke-19 dan menjadi festival sastra terlama di kota tersebut merupakan bagian dari perayaan 75 tahun Southbank Centre. Tahun lalu, Self-Esteem menjadi kurator, dan deretan bintang utama sebelumnya mencakup Margaret Atwood, Malala Yousafzai, Tom Hanks, hingga Ai Weiwei. Program Lipa masih berlanjut hingga festival ditutup pada Minggu, 1 November, dengan agenda seperti Translated Fiction Showcase pada 28 Oktober, Fierce Sounds bersama Kae Tempest pada 30 Oktober, serta Re-Writing Male Tenderness dan Censorship Live! bersama English PEN pada 31 Oktober.
Banyak bintang pop menjalankan klub buku. Namun mendapatkan Zadie Smith untuk membicarakan novel yang enggan ia buka kembali, di hadapan penonton penuh, adalah pencapaian yang menunjukkan bahwa Dua Lipa benar-benar serius menjalankan perannya. Di sisi lain, kehidupan pribadinya pun tak luput dari perhatian. Pasangannya, Callum Turner, tengah menjadi perbincangan karena disebut sebagai salah satu kandidat utama untuk menggantikan Daniel Craig sebagai James Bond. Pria berusia 36 tahun itu lahir di Hammersmith, London, dan dibesarkan di kawasan perumahan council estate di Chelsea oleh ibunya yang bekerja sebagai promotor klub.
Turner memulai kariernya sebagai model pada 2010 untuk merek seperti Nike dan Reebok, sebelum akhirnya menekuni dunia akting melalui film pendek Think of England. Debut film layar lebarnya adalah Queen and Country, dan namanya semakin dikenal lewat peran Alistair di Victor Frankenstein, Theseus Scamander di Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald, serta Frank Churchill di Emma.
Tak hanya di dunia sastra dan film, Dua Lipa juga terus menjadi ikon mode. Baru-baru ini ia menghadiri gala pembukaan Metropolitan Opera untuk Lincoln in the Bardo dengan gaun sequin hitam berjumbai dari koleksi Ferragamo. Sehari setelahnya, ia tampil santai di New York City mengenakan trench coat panjang berwarna sage dari Phoebe Philo yang dibalut di pinggang, dipadukan dengan sweatshirt putih dan legging hitam. Trench coat tersebut dibanderol sekitar 3.900 dolar AS dan kini telah sold out di situs resmi merek. Turner pun tampil sporty dan kasual di sisinya, memakai kemeja biru pudar di atas kaus merah cerah, celana training hitam, dan sepatu sneakers abu-abu beraksen kuning lemon.
Dari panggung sastra hingga deretan runway, Dua Lipa terus menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok multidimensional yang mampu memadukan kecerdasan, gaya, dan pengaruh budaya dalam satu paket yang memikat.
Pada akhirnya, kisah Dua Lipa tahun ini adalah cermin bagaimana seorang bintang pop dapat melampaui batas dunianya. Ia tidak sekadar menghibur lewat lagu, tetapi juga membuka ruang dialog antara musik dan sastra, antara gaya dan substansi. Keseriusannya mengkurasi festival sastra, keberaniannya menghadirkan nama-nama besar, serta konsistensinya tampil memukau di setiap kesempatan, menjadikannya salah satu figur paling berpengaruh di industri hiburan sekaligus budaya saat ini.