Mak Orut, orangutan Sumatera yang berada di hutan Jombang, meminta Karmele datang ke Jombang untuk bertukar pengalaman. Permintaan itu disampaikan kepada Shasha, yang mendampingi ibunya, dengan usul agar Karmele diajak serta di kawasan hutan Jombang.
Nama Karmele sendiri tercatat sebagai peraih Naider Action and Commitment Prize pada 2007. Naider adalah organisasi dari Bilbao, Spanyol, yang berkomitmen membangun masyarakat inovatif secara ekonomi, adil secara sosial, dan bertanggung jawab secara ekologis. Menurut Naider, Karmele merupakan sosok yang sangat berharga karena mencerminkan kualitas dan pembelaan terhadap prinsip-prinsip yang menjadi dasar visi dunia berkelanjutan.
Orangutan Buronan Penyelundup
Kepada Shasha, Mak Orut menyampaikan sejumlah hal yang ingin disampaikan jika Karmele benar-benar datang. Ia menyebut dirinya dan kelompoknya sebagai orangutan Sumatera buronan yang diselundupkan oleh pemburu liar. Ayah serta kakek dan neneknya dibunuh para pemburu dalam perjalanan karena melawan, sementara ibunya yang saat itu sedang hamil berhasil melarikan diri ke Jombang.
“Hutan Jombang bukan tempat kami tinggal karena merupakan hutan jati dan hutan produksi Perhutani,” ujar Mak Orut. Ia menjelaskan, iklim dan ketersediaan buah di Jombang sangat berbeda dengan hutan pedalaman Kalimantan atau Sumatera, tempat orangutan biasa mencari makanan. Meski jumlahnya terbatas, ia menyebut kelompoknya tetap ada di Jombang sebagai pendatang gelap.
Setelah itu, Mak Orut mengajak Shasha mendoakan ribuan orangutan yang belum ditemukan serta para relawan yang meninggal akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2026.
Tiga Dokumen Jika Karmele Datang
Usai berdoa, Mak Orut membuka laptop dan meminta Shasha membacakan dokumen yang telah disiapkan bila Karmele datang ke hutan Jombang. Dokumen pertama berisi rencana pembentukan “Power of Mama” versi Jombang. Di Kalimantan Barat, inovasi terbesar Karmele disebutnya adalah membentuk kelompok perempuan pemadam kebakaran hutan dengan nama Kekuatan Ibu. Di Jombang, konsep itu akan diadopsi dengan menjangkau ibu-ibu di sekitar lereng Gunung Anjasmoro, seperti di Wonosalam, maupun daerah rawan seperti Mojoagung dan Ngoro. Peran mereka adalah menjadi garda terdepan pendidikan yang mengetuk pintu masyarakat untuk melarang pembakaran daun tebu atau sampah, sekaligus melakukan deteksi dini ketika melihat kepulan asap saat patroli sehari-hari.
Dokumen kedua memuat rencana edukasi intensif bagi petani tebu dan pemilik lahan. Menurut Mak Orut, pemicu utama di Jombang adalah pembukaan lahan tebu dengan cara dibakar, yang disebutnya sebagai kesalahan manusia. Ia akan berdialog langsung dengan kelompok tani untuk menjelaskan bahaya angin kencang pada musim kemarau yang membuat kebakaran tidak terkendali, serta memperkenalkan metode pengelolaan limbah daun tebu yang lebih ramah lingkungan tanpa pembakaran, misalnya diolah menjadi kompos atau mulsa.
Dokumen ketiga menyangkut evakuasi dan perlindungan satwa liar setempat. Meski Jombang disebut kekurangan orangutan, kawasan hutan seperti Wonosalam juga menjadi rumah bagi satwa liar Jawa yang dilindungi, antara lain monyet ekor panjang, burung endemik, dan macan tutul jawa.
Shasha pun menyatakan kesiapannya mendaftar sebagai relawan jika Karmele datang. Menurut Shasha, ia akan menyisir perbatasan hutan yang terbakar di Jombang seluas lebih dari 148 hektar untuk menyelamatkan dan mengobati hewan yang terluka atau mengalami dehidrasi, serta menguburkan hewan yang mati dengan baik. Ia juga meminta Mak Orut tidak khawatir jika kegiatan itu dipimpin orang yang kredibel di bidangnya.
Mak Orut lantas pingsan karena tergerak oleh pernyataan anaknya tersebut.
Catatan Redaksi
Dalam catatan redaksi yang menyertai artikel ini, manajemen dan tim editorial menyampaikan permintaan maaf karena laman mereka tidak dapat diakses atau mati total sejak Sabtu (2/5/2026). Mereka menyebut gangguan itu akibat kelalaian perusahaan penyedia jasa, PT QCI, yang juga diakui pihak tersebut. Untuk sementara, seluruh informasi relawan dialihkan dan ditampilkan di laman lain.
Redaksi menyatakan dua kali pemanggilan tidak digubris dan telah meminta sembilan lembaga negara menangani kasus ini, yaitu KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN, dan BPSK. Redaksi juga meminta pembaca menghindari isu terkait tuduhan pembunuhan yang disengaja terhadap media relawan maupun tuduhan konspirasi politik. Artikel ini sendiri, menurut catatan tersebut, menggunakan karakter binatang sebagai personifikasi sindiran untuk berpartisipasi dalam kampanye antikorupsi.