Penumbangan Pohon Sawit Perdana Program PSR KUD Bale Yotro Di Gelar Secara Adat 

Melawi, Kalbar – Pemilik kebun kelapa sawit kini bisa bernafas lega. Pasalnya, pemerintah telah memberikan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) melalui koperasi atau lembaga atau asosiasi kelompok petani sawit.

Salah satunya Koperasi Unit Desa (KUD) Bale Yotro Desa Beloyang, Kecamatan Belimbing Hulu Kabupaten Melawi sebagai penerima program PSR tersebut. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua KUD Bale Yotro, YS Marjitan dalam acara penumbangan pertama program PSR di Desa Beloyang, Kamis (29/7).

Hadir pada kesempatan tersebut, Bupati Melawi diwakili oleh Plh. Asisten Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat, Suminggar Siringgo Ringgo, Kepala Dinas Pangan dan Perkebunan, Daniel, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Melawi Kepala Cabang Bank BNI 46 Kabupaten Melawi, Pimpinan PT SDK, Fokopimcam Kecamatan Belimbing Hulu dan Kecamatan Belimbing, beberapa Kepala Desa Tetangga, Tokoh Agama dan Tokoh masyarakat, Tokoh Adat serta Ketua Kelompok Tani Hamparan (KTH) KUD Bale Yotro.

Ketua KUD Bale Yotro, YS Marjitan dalam laporannya menyampaikan, program PSR telah dicanangkan oleh Pemerintah pusat pada tahun 2016. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi dalam program PSR tersebut. Karena program ini melibatkan banyak pihak.

“Ada sekitar 7 tahapan proses pengajuan yang dilakukan oleh KUD Bale Yotro. Saat ini sebanyak 999.1 ha dari 1000 hektar yang kami diajukan. Yang lolos administrasi sebanyak 929 hektar, tidak lolos sebanyak 11 peserta, yg tidak ikut sejak awal 2 peserta. Yang lolos administrasi bukanlah rekayasa melainkan berdasarkan penilaian 3 pihak dalam MoU ini”. Pungkasnya.

YS Marjitan juga menyampaikan, dalam perjalanannya, sebanyak 261 hektar dari sekian pemilik lahan yang ragu ragu dan ada yang mengundurkan diri. Sehingga tersisa 668 hektar. Namun proses replanting harus tetap berjalan, ia juga mengingatkan kepada masyarakat yang masih ragu harus melihat dan mempertimbangkan kembali pilihan tersebut, namun dirinya tidak juga bisa memaksakan.

“Peremajaan sawit ini bukanlah hal yang mudah dilakukan secara tradisional dengan peralatan seadanya. Perlu suatu alat modern agar proses PSR dapat berjalan secara cepat, tepat dan terukur”. Ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Melawi melalui Plh Asisten Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat, Suminggar Siringgo Ringgo menyampaikan permohonan maaf Bupati Melawi yang tidak bisa hadir pada acara ini. Namun dirinya meyakinkan bahwa Bupati sangat mendukung program PSR yang merupakan kebijakan pemerintah pusat untuk kesejahteraan petani kelapa sawit.

Dirinya juga mengingatkan kepada camat agar membantu untuk pemulihan ekonomi sementara waktu bagi petani sawit selama masa replanting (penanaman kembali) dengan menyurati Bupati agar bisa dibantu kegiatan ekonomi alternatif bagi petani selama masa replanting. Ia juga berpesan kepada pemerintah desa atau KUD agar menjalankan amanah ini sebaik mungkin untuk kesejahteraan masyarakat.

“Berikan pemahaman kepada masyarakat bahwa program ini sangat baik untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya petani kelapa sawit”. Ujarnya.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Pangan dan Perkebunan, Daniel menyampaikan program PSR ini merupakan program langsung dari pemerintah. Program PSR memberikan angin segar bagi petani kelapa sawit dalam keberlangsungan perkebunan kelapa sawit. Ada 4, 7 juta hektar dari 11, 3 juta hektar lahan se indonesia yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

“Masyarakat jangan termakan isu yang tidak benar terkait replanting ini. Karena tidak mudah untuk melakukan peremajaan sawit. Oleh karena itu pemerintah memberikan program ini kepada masyarakat agar membantu percepatan pertumbuhan ekonomi khususnya di bidang perkebunan kelapa sawit”. Pungkasnya.

Fian, salah satu masyarakat penerima manfaat PSR mengatakan dirinya sangat terbantu dengan adanya program ini. Ia tidak dapat membayangkan jika harus melakukan peremajaan sendiri, tentu akan menyerap biaya besar dan waktu yang lama.

“Saya tidak bisa membayangkan jika harus menumbangkan pohon sawit secara manual. Akan menyita waktu, tenaga, biaya dan pikiran agar lahan bisa ditanami kembali. Saya ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Pusat yang telah memberikan bantuan serta kepada pemerintah desa Beloyang, khususnya KUD Bale Yotro yang telah bersusah payah memfasilitasi kemudahan bagi anggotanya”. Ucapnya.

Acara penumbangan pohon pertama dilaksanakan dengan upacara adat Dayak Linoh, yaitu Acara adat ngumpan tanah. Tradisi ini salah satu bentuk kepercayaan masyarakat adat, agar hasil pertanian maupun perkebunan mendapat hasil yang baik dan mendapat berkah sang pencipta.

 

Penulis : Ade Shalahudin

A. Rachman

Organisasi Serikat Pers Republik Indonesia Bersertifikat assesor BNSP RI. Pengurus di KOWARI