PT Soechi Lines Bungkam, Diduga Kemenaker Tutupi Kasus Dua Orang TKA Ilegal

Jakarta – Permasalahan kasus 2 TKA illegal di PT Soechi Lines menjadi perhatian serius bagi kalangan yang berprofesi sebagai Pelaut mengingat 2 orang TKA illegal tersebut yakni Khan Khamran Mahmood,Warga Negara Pakistan dan Sawney Karanpreet Sigh, Warga Negara India yang bekerja di PT Soechi Lines menjadi viral di berbagai Media sosial khususnya di kalangan yang berprofesi sebagai Pelaut.

Kendati permasalahan atas 2 TKA tersebut sejak dilaporkan setahun yang lalu oleh Capt Habel Tandiseru M Mar kepada Kemenaker, Perhubungan Laut, Ombudsman , Serikat Pekerja Pelaut Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) namun masih belum menemukan titik terang atas surat tuntutan laporan Capt Habel Tandiseru tersebut.

Hari ini Rabu (28/4) awak Media Mendatangi PT Soechi Line, Sahid Sudirman Center lt 51 ,jalan Jend Sudirman Kav 86 ,Jakarta Selatan untuk menanyakan tanggapan PT Soechi Lines atas 6 Tuntutan Laporan Capt Habel Tandiseru yang di tujukan kepada Direktur Pengawasan Norma kerja dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja yaitu:

Pertama,Kedua orang TKA tersebut bekerja tidak sesuai dengan jabatan dan nama perusahaan yang ada ijin kerja. yang mana kedua TKA tersebut bekerja di PT Sukses Maritim Line dan PT Adiraja Armada Maritime. Akan tetapi pada kenyataannya kedua TKA tersebut bekerja di PT Vektor Maritim tempat Capt Habel Tandiseru M Mar bekerja, dan Almarhum Markus Patanda

Kedua, dua orang TKA tersebut menduduki jabatan tertentu yang melanggar UUK nomor 13 Tahun 2003. Ketiga, Diskriminasi Gaji antara pelaut Indonesia dengan pelaut asing di kapal yang berbendera Indonesia. Keempat, Intimidasi dengan melakukan penahanan dokumen asli dan pakaian untuk ditinggalkan diatas Kapal Mt Prima Tangguh.

Kelima, perampokan bonus ABK dengan cara intimidasi yaitu dengan mengancam ABK segera turun dari Kapal jika tidak mau mengikuti aturan yang dikeluarkan oleh Sawney karanpreet Singh, warga Negara India. Keenam, Pembatalan PKL dan ingkar janji dengan cara membuat laporan fitnah dan pencemaran nama baik ke Management/Owner.

Turut juga disertakan surat laporan atas istri korban, Almarhum Markus Partanda atas kematian suaminya di Kapal Mt.Prima Lautan ll sebagai Chief Enginering yang menurut keterangan beliau bahwa almarhum meninggal karena sakit, akibat kelelahan kerja, overtimes serta kerja rodi. Diketahui bahwa yang bertanggung jawab atas meninggalnya Bapak Markus Partanda adalah kedua TKA ilegal tersebut

Namun Pihak Managemen PT Soechi Lines yang di wakili Amanda tidak menanggapi dan tidak berkomentar apapun terkait permasalahan 2 TKA Illegal. Bahkan Amanda mengatakan Managemen PT Soechie Lines tidak menerima tamu atau siapapun dan tidak bisa memberikan statemen dan klarifikasi tentang apapun, termasuk kepada Media.

Lalu awak Media Menghubungi Capt Habel Tandiseru M Mar yang mengatakan bahwa pelanggaran terhadap 2 TKA illegal sudah final oleh Kemenaker didepan ombudsman RI dan pelapor pada tanggal 31 Maret 2021 via zoom online.

Lanjut Capt Habel Tandiseru apakah betul perusahan ada main mata” dengan Kemenaker karena 2 TKA illegal tersebut belum juga dideportasi.

Apa langkah perusahan dengan 2 TKA illegal sebagaimana pengakuan kemenaker yang disampaikan oleh Firman dan Erikson Sinambela dihadapan Ombudsman pada tanggal 31 Maret 2021 dan audensi di kemenaker tanggal 5 April 2021 yang dihadiri salah satu keluarga korban yaitu Alfrida Patanda istri chief eng Markus Patanda yg meninggal di Mt Prima Lautan 2 milik PT. Soechi lines yg dioperasikan oleh PT. Vektor Maritim.

Menurut Capt Habel Tandiseru M Mar dalam Audensi tanggal 5 Aprl 2021di kantor kemenaker Jl. Gatot Subroto lt. 7 Kantor Direktorat Pengawasan Norma Kerja dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang dihadari oleh Pimpinan PNKJ yaitu Pak Erikson Sinambela, bersama rekannya, Rihat Purba dan Firman Fridono, dan rekan. Dalam Audensi tgl 5 April 2021 Pimpinan Pak Erikson turut menghadirkan Lawyer pribadi Direktur PT Soechi Lines, Tegap Himsataki.

Ironisnya Lawyer perusahan tersebut tidak bisa menunjukkan surat kuasa dari klien ketika Capt. Habel menanyakan. Capt. Habel Tandiseru M Mar dengan tegas meminta pimpinan Audensi Pak Erikson untuk segera mengeluarkan dari ruangan lawyer “abal-abal” tersebut karena tidak bisa menunjukkan surat kuasa dari Klien. Setelah pengacara tersebut keluar dan pergi meninggalkan ruangan maka audensi kembali dilanjutkan.

Turut juga awak Media Komunikasi kepada salah satu Korban karyawan yang mengabdi dengan baik selama Lima Tahun di PT Soechi Lines yang namanya tidak mau disebutkan, yang mengatakan bahwa Sawney Karanpreet Sigh, Warga Negara India melakukan tindakan untuk mempensiunkan dini dengan meminta kepada HRD dengan tanpa alasan yang jelas, pada hal menurut korban tersebut sudah menyelamatkan aset Perusahaan sekitar 1,8 Milliar.

Diakhir Capt Habel Tandiseru M Mar mengatakan kepada Media Jika Kemenaker tetap “main mata “dengan perusahan maka simpatisan pelaut siap turun ke Istana dan DPR RI karena ini adalah penghinaan terhadap WNI.

Penulis : Ricardo