Kemenaker Lakukan Penyelidikan Kepada dua orang Tenaga Kerja Asing 

%

Jakarta – Bedasarkan tuntutan Cao!+ Habel Tandiseru atas dugaan 2 orang Tenaga Kerja Asing (TKA) illegal terkait jabatan dan perusahaan yang tidak sesuai dengan notifikasi yang dibacakan secara langsung di depan perwakilan Direktur Pengawasan Norma Kerja dan Jaminan sosial tenanga kerja Kemenaker RI, Firman Frinado dan Rihat Purba.

Turut hadir istri korban, Almarhum Markus Partanda untuk melaporkan kembali kasus kematian suaminya di Kapal Mt. Prima Lautan ll sebagai Chief Enginering (12/04/2021). Hari ini Kembali Perwakilan Dua orang Pelaut NKRI yaitu Hasoloan Siregar dan Ricardo Hutabarat yang turut menandatangi dukungan Surat Tuntutan atas 2 orang TKA ilegal ke Kemenaker RI di jalan Gatot Subroto no 51, Jakarta Selatan.

Atas kesepakatan pada tanggal 12/04/2021 antara Capt Abel Tandiseru dan perwakilan Kemenaker akan dilakukan kembali penyelidikan dalam 1 minggu kedepan terhadap ke 2 TKA ilegal yaitu, Khan Khamran Mahmood, warga Negara Pakistan dan Sawney Karanpreet Sigh, warga Negara India yang bekerja di PT Soechie Line Group.

Perwakilan Pelaut NKRI menanyakan kembali progres tindakan penyelidikan sesuai janji dari Kemenaker yang akan dilakukan dalam 1 minggu sejak kedatangan Capt Habel Tandiseru dan istri korban almarhum Markus Partanda. Menurut Rihat Purba bahwa Kemenaker telah melakukan penyelidikan selama dua hari terhadap PT Soechie Line Group, yaitu pada tanggal 19 -20 April 2021.

“Semoga dalam seminggu ke depan hasil dari penyelidikan yang dilakukan oleh Kemenaker dapat diketahui hasilnya. Berhubung pejabat Direktur Pengawasan Norma Kerja dan Jaminan sosial Tenaga Kerja telah berganti”. Ujar Rihat Purba.

Dalam Surat Tuntutan Capt Habel Tandiseru yang ditujukan kepada Direktur Pengawasan Norma Kerja dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah;

  1. Kedua TKA tersebut bekerja tidak sesuai dengan jabatan dan nama perusahaan yang ada di ijin kerja. yang mana kedua TKA tersebut bekerja di PT Sukses Maritim Line dan PT Adiraja Armada Maritime. Akan tetapi pada kenyataannya kedua TKA tersebut bekerja di PT Vektor Maritim tempat Capt Abel bekerja.
  2. Kedua TKA tersebut menduduki jabatan tertentu yang melanggar UUK nomor 13 Tahun 2003.
  3. Dskriminasi Gaji antara pelaut Indonesia dengan pelaut asing di Kapal Mt Sc Express, yang berbendera Indonesia.
  4. Intimidasi dengan melakukan penahanan dokumen asli dan pakaian untuk ditinggalkan diatas Kapal Mt Prima tangguh yang mana Capt Habel Tandiseru sudah habis kontrak dan akan pulang ke rumah, diancam tidak dibelikan tiket jika semua dokumen dan pakaian tidak ditinggalkan diatas kapal.
  5. Perampokan bonus ABK dengan cara intimidasi yaitu dengan mengancam ABK segera turun dari Kapal jika tidak mau mengikuti aturan yang dikeluarkan oleh Sawney karanpreet Singh, warga Negara India.
  6. Pembatalan PKL dan ingkar janji dengan cara membuat laporan fitnah dan pencemaran nama baik ke Management/Owner, dan diskriminasi penempatan Nahkoda di Kapal Mt Phoenix Alpha yaitu menempatkan nahkoda yang berasal dari Negaranya Pakistan (Penjelasan Kronologi)

Lebih lanjut menurut Capt Habel Tandiseru, bahwa hal ini juga dari penjelasan dan pengakuan yang disampaikan oleh Erikson Sinambela dan Firman S pada tanggal 31 Maret 2021 secara online bersama Ombudsman RI. dan dalam hal ini, Capt Abel Tandiseru sendiri sebagai pihak pelapor ditemukan Pelanggaran melanggar UUK No 13 Tahun 2003.

Pada pertemuan di Kemenaker, pada tanggal 12 April 2021 yang lalu disambut oleh 2 orang perwakilan Kemenaker Direktur Pengawasan Kerja dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Firman Frinado dan Rihat Purba.

Kematian Markus Partanda di Kapal Mt.Prima Lautan ll sebagai Chief Engineering menurut keterangan bahwa almarhum meninggal karena sakit, akibat kelelahan kerja, over times serta kerja rodi. Diketahui bahwa yang bertanggung jawab atas meninggalnya Markus Partanda adalah kedua TKA ilegal tersebut

Capt Abel Tandiseru sangat berharap kasus ini dapat segera diselesaikan dan kedua TKA illegal tersebut dapat segera di deportasi dari NKRI. Sebab Kasus ini sudah berjalan selama setahunn

Penulis : Redaksi