Kemenkop UKM Siap Dorong Pelaku UMKM Kepulauan Nias Untuk Atasi Krisis Pandemi Covid-19

Jakarta – Saat ini Indonesia dan sekitar 220 negara di dunia masih dihadapkan dan terdampak pandemi covid-19. Berdasarkan data dari BPS menunjukkan secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020 memang tumbuh mines 2,07%. Pandemi ini juga memberikan dampak dan imbas kepada para pelaku UMKM dan koperasi baik dari sisi supply maupun demand.

“Hal ini tidak mengherankan karena ada pembatasan interaksi fisik masyarakat yang menyebabkan perubahan perilaku dan pola konsumsi di masyarakat. Namun demikian, kita harus optimis karena UMKM dan koperasi adalah pelaku ekonomi yang terbukti handal, mampu bertahan, bertumbuh dan beradaptasi secara cepat”. Ungkap Rulli Nuryanto, Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Makro, Kemenkop UKM di acara diskusi nasional zoom meeting dengan tema “Peluang dan Tantangan UMKM Kepulauan Nias Di Masa Covid-19” di Jakarta, Minggu (28/3).

Dikatakan Rulli, pada sektor riil, seperti pertanian, perkebunan dan perikanan dari data BPS tahun 2021 mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,59 persen. Situasi yang perlu kita antisipasi ditengah pandemi Covid-19 adalah bertambahnya angka kemiskinan yang diprediksi bisa bertambah mencapai 4,86 juta orang. Data BPS tahun 2020 tingkat pengangguran terbuka mencapai 7,07 persen. Sedangkan data kementerian keuangan tahun 2020 angka pengangguran bertambah sekita 9.7 juta orang.

“Diprediksi situasi perekonomian dimasa pandemi Covid-19 belum stabil dan pulih sepenuhnya. Melalui vaksinasi nasional bisa mengubah keadaan semakin baik.
Sektor UMKM dan Koperasi merupakan kunci pemulihan ekonomi. Dalam upaya membantu para pelaku usaha tersebut pemerintah telah meluncurkan program Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM)”. Ujar Rulli.

Menurutnya Kepulauan Nias memiliki potensi dan sumber daya alam yang baik. Potensi laut yang memiliki sejumlah pantai yaitu Pantai Gawu Soyo di Nias Utara dan Pantai Sorake di Nias Selatan. Dikalangan pecinta olah raga surfing pantai ini sudah terkenal luas. Ini menjadi potensi obyek wisata yang layak dikembangkan.

“Selain potensi wisata budaya dan sejarah. sektor perikanan, potensi pertanian, dan perkebunan juga cukup luas dengan komoditi unggulan seperti durian, pisang, mangga dan sayuran. Potensi-potensi ini harus dimanfaatkan oleh para pelaku usaha di Kepulauan Nias. Dalam hal ini, pelaku UMKM dan koperasi agar berkontribusi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah juga telah dan terus melakukan upaya pengembangan dan pemberdayaan koperasi dan UKM guna meningkatkan nilai tambah dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional”. Tandasnya.

Sementara, Ahmad Dading Gunadi, Direktur Pengembangan Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi, Bappenas menyampaikan berdasarkan sensus ekonomi, permasalahan utama yang dihadapi oleh UMK non pertanian adalah pemasaran, permodalan dan persaingan usaha. Untuk itu, para pelaku UMKM didorong untuk memperlengkapi ijin legalitas usaha dan penerapan digitalisasi berbasis internet, dan kerjasama dengan pelaku usaha makro.

“Sebenarnya, potensi pariwisata Kepulauan Nias sangat potensial untuk dikembangkan. Bappenas siap mendukung dan memberdayakan para pelaku UMKM di Kepulauan Nias”. Ujarnya.

Kepala Dinas Disperindag Sumut, Riadil Lubis Akhir, mendorong terwujudnya pusat UMKM atau rumah produksi yang terintegrasi di Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias. Disperindag Sumut berkomitmen mendukung dan memfasilitasi para pelaku UMKM.

Anggota DPRD Sumut meminta agar pemerintah sungguh-sungguh mempermudah para pelaku UMKM Kepulauan Nias dalam mengakses permodalan. “Berdasarkan temuan di lapangan masih ditemukan para pelaku UMKM masih kesulitan mengakses permodalan yang telah digulirkan oleh pemerintah misalnya dana Kredit Usaha Rakyat (KUR)”. Tutupnya.

Penulis : Deva