Publik Pertanyakan Metode Pelaksanaan

dan Supley Batu Abrasi Pantai Padang.

Padang. Sumbar – Kegiatan penanganan Abrasi pantai Padang di tiga lokasi menjadi pertanyaan masyarakat publik Kota Padang.

Proyek yang di biayai dari bantuan Dana Siap Pakai (DSP) BNPB tahun 2021 senilai Rp.19 miliar, terkesan asal jadi dan kegiatannya ada.

Tidak terlihat pemasangan geotextile pada tumpukan batu

Dari hasil pengamatan jurnalis di tiga lokasi pengerjaan di  Kawasan Tugu Merpati, Kawasan Masjid Al Hakim dan Pasir Jambak dengan waktu pengerjaan 70 hari, metode pelaksanaan dan  pengadaan batu material diduga tidak sesuai speck serta ilegal.

Berdasarkan informasi dari narasumber yang dapat di percaya, pada pelaksanaan pekerjaan ada pemakaian butiran batu berbentuk bulat, batu sedang dan kecil pada sisi luar, pada bagian dalam terihat kosong.

Pada tumpukan batu dibuat rongga

Masih dari informasi masyarakat, pekerjaan proyek pernah mendapat protes dari warga dan pemerhati pembagunan atas pekerjaan yang tidak menggunakan Geotextile (lembaran sintetik yang berpori sehingga memiliki sifat tembus air dan fleksibel,)

Pada kawasan Tugu Merpati ( Pantai Muaro Lasak- red), berdasarkan kontrak kerja dengan nilai Rp.5.9 Miliar dikerjakan oleh PT. Graha Bangun Persada  ( PT. GBP ), terlihat pemakaian batu gajah berbentuk bulat

Juga diperparah, disebut- sebut Suplayer pemasok batu, PT.Berkah Bumi Mutiara ( PT. BBM ) pada tiga lokasi kawasan pantai Padang diatas diduga hanya mengantongi izin penambangan Clay atau tanah liat.

Papan proyek tidak di lengkapi dengan Direksi Kit

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Sumatera Barat, Suryadi, mengungkap secara keseluruhan di Pantai Kota Padang terdapat dua proyek pemulihan abrasi. Selain proyek yang dikerjakan oleh PT Graha Bangun Persada dengan Direktur, Parno. Juga ada proyek yang dikerjakan oleh PT Prada Karya Utama dengan Direktur, Bakhril Sony. Suryadi menegaskan, jika terdapat kontraktor yang menggunakan material dari lokasi tambang tak berizin maka akan dikenakan sanksi, demikian janjinya kepada awak media pessel.warta.id.

Jika Hoax dari perusahaan mana material ini diperoleh ?

Namun berbeda tanggapan Suryadi kepada wartawan media ini, “Info ini sebaiknya jika ingin jelas bisa lansung ketemu OS ( demikian panggilan diri Suryadi- red). Atau pelaksana, demikian sarannya.

Dipaparkan Suryadi via media sosial WhatsApp, berita ini muncul di Tabloid Zaman. “kami akan lakukan pembelaan atas berita hoax ini beritanya tidak benar “,

Masyarakat menilai Abrasi akan semakin parah ketika tidak ada pengikat/pelapis Geotextile karena beban batu

Masih menurut Suryadi,” Pak Edwar ( wartawan- red), ngerti ndak tentang pembuatan batu krib ini terutama tentang pemasangan batu. jika tidak lebih baik kita diskusi lansung” , demikian pinta Suryadi.

Disebutkan Os. terkait Foto- foto ini dah beberapa kali Os terima dari kawan- kawan yang lain dua minggu yang lalu, kilahnya.

Sementara. tentang ada batu PT BMB masuk kelokasi proyek, Os pastikan tidak ada. Adanya berita itu, hoax dan bohong, nantinya Humas yang kerja akan menjawab isi berita di koran dan online itu, seakan- akan meyakinkan media ini.

Dilain tempat, wartawan yang berhasil mintakan tanggapan Manager PT. GBP, Parno, sebutkan ” menurut saya berita yang tadi tidak seperti yang diberitakan, ujarnya.

Namun ketika dikejar pertanyaan, jika berkenan, bagaimana menurut bapak atas konfirmasi diatas. Lantas Parno berucap, ” Saya tidak berkenan kalau dibuat dengan berita seperti itu pak. Sebab kami tidak pernah memakai batu dari PT. BMB tersebut, demikian kilahnya.

Bagi Aktifis Anti Korupsi, Ady Surya, SH MH, menyikapi adanya pertanyaan publik terkait penanganan Abrasi Pantai Padang yang berasal Dana Siap Pakai (DSP) BNPB 2021 senilai Rp.19 miliar, itu dinilai asal- asalan dan berpotensi KKN itu, agar disikapi unit Tipikor Polda, atau Kejaksaan Tinggi Sumbar, pintanya.[] Eb.