Faktor Penyebab Banjir Bandang Puncak Bogor

Kabupaten Bogor, Jabar – Penyebaab banjir bandang di Puncak Bogor, mendapat pandangan banyak dari tokoh masyarakat di Negeri ini.

Berdasarkan pendapat tanggapan dari pakar serta dosen Departemen Silvikultur, Fahutan (Fakultas Kehutanan dan Lingkungan) IPB (Institut Pertanian Bogor), Omo Rusdiana.

Omo menyebut, bahwa hal itu terjadi akibat beberapa faktor. Di antaranya adalah deforestasi, lahan kritis atau tidak produktif, kondisi sungai berikut penyimpangan penggunaan tata ruang.

“Faktor penyebab banjir tersebut antara lain intesitas hujan yang tinggi, kualitas tutupan lahan akibat deforestasi, lahan kritis/tidak produktif, kondisi sungai berikut penyimpangan penggunaan tata ruang,”jelasnya Omo kepada awak media, Jumat (22/01/2021).

Tambahnya, terjadinya banjir bandang tersebut, dikarekan akibat dari wilayah resapan air itu telah banyak dijadikan lahan terbangun,” imbuhnya.

Berdasarkan Analisis Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) hal, dari penyebab Banjir Bandang di kawasan tugu Gunung Mas Puncak Bogor tersebut, ungkapnya ada hubungan erat dengan tata ruang. Seumpama terjadi pelanggaran terhadap tata ruang, maka resiko yang akan diterima akan semakin besar,” jelasnya.

Adapun dari itu, lahan terbangunnya tidak mendukung fungsi resapan sehingga berdampak terhadap tingginya aliran permukaan dan risiko banjir.

“Tata ruang tersebut, sudah ada peraturannya yaitu Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur. Yang menjadi pertanyaan apa sudah dilaksanakan aturan tersebut?” Ucap Omo pakar sekaligus dosen IPB

Adapun yang bertanggung jawab, terkait hal kejadian bencan tersebut, menurutnya secara prinsip adalah pelaku yang melanggar aturan tersebut, serta tidak terlepas dari aspek pihak pembuat aturan dan pihak penegak hukum,” jelasnya.

Tambah Sarannya, agar dalam pemanfaatan lahan sesuai dengan fungsinya secara produktif dengan harus tetap memperhatikan perlindungan lingkungan dan berkeadilan. Melalui pengelolaan lahan pertanian dengan menerapkan praktik pertanian yang baik GAP (Good Agriculture Practices).

“Ucapnya dengan melakukan sosialisasi ke lokasi wilayah daerah rawan longsor ataupun banjir ke masyarakat, serta kosekuensinya,” pungkasnya. [ ] Wieragus Virlama