Penolakan Penerapan Wisata Halal

Lebih Relevan jika digunakan istilah wisata religi 

Danau Toba, Sumatera Utara – Menyambut kunjungan kerja Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Toba berharap akan adanya langkah langkah strategis dari Kementerian untuk percepatan pembangunan pariwisata di sekitar danau Toba.

Sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat dari sektor pariwisata secara ril, jangan lagi memberikan statement atau pernyataan yang justru menimbulkan kontroversi seperti beberapa hari lalu pernyataannya tentang wisata halal dan religi.

Hal yang sama juga terjadi pada tahun lalu beberapa hari setelah dilantik, Wishnutama juga membahas tentang wisata halal, dan mendapat banyak penolakan dari masyarakat.

Seharusnya Sandiaga Uno memahami hal tersebut sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan pernyataan yang provokatif melainkan fokus melakukan pengembangan pariwisata yang berdasarkan pada budaya dan kearifan lokal.

Penggunaan kata ‘wisata halal’ menimbulkan dikotomi dan ada kesan bahwa kawasan wisata tersebut sebelumnya tidak halal (haram) sehingga kemudian harus diberikan label halal agar dapat dikunjungi wisatawan.

Pada hal selama ini berbagai kawasan wisata telah berupaya menyiapkan fasilitas dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan, termasuk wisatawan yang beragama Islam.

Jika kita menuju ke Kawasan Danau Toba melalui Bandara Silangit, di bandaranya telah tersedia mushola, dan rumah makan halal. Bahkan walaupun di Kawasan Danau Toba itu mayoritas Kristen, di area bandara tidak kita temukan fasilitas tempat ibadah Kristen ataupun rumah makan Batak.

Jadi sebenarnya masyarakat lokal dan pelaku wisata sudah berusaha menyesuaikan dengan kebutuhan wisatawan. Namun, masih harus ditingkatkan pelayanannya.

Pemerintah jangan lagi memakai istilah wisata halal melainkan melakukan edukasi dan sosialisasi kepada para pelaku wisata tentang bagaimana membangun kawasan wisata yang ramah kepada wisatawan dari berbagai latar belakang daerah, agama, suku, negara, dan lainnya. khusus pemerintah se kawasan Danau Toba agar fokus pada pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, budaya dan kearifan lokal.

Namun walau menolak wisata halal, GAMKI TOBA mendukung program wisata religi yang dicanangkan Pemerintah. GAMKI meminta pemerintah pusat dan daerah untuk bekerjasama mengembangkan tempat-tempat wisata yang memiliki kesan spiritualitas atau memberikan pengalaman rohani.

Kalau wisata religi kita sepakat, walau kita lebih terbiasa dengan istilah wisata rohani, misalnya di Kristen Protestan, bisa wisata rohani tentang sejarah masuknya Nomensen ke Tanah Batak, mengunjungi Salib Kasih di Tarutung atau masuknya Injil ke Tanah Papua di Pulau Mansinam. Kalau di agama Islam bisa tentang sejarah Wali Songo. Begitu juga agama Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, pasti ada sejarah yang dapat menjadi pengalaman rohani bagi wisatawan. Namun wisata halal, GAMKI TOBA menolak keras. ASM