Festival PEK di Objek Wisata Agam Payakumbuh

MPSB Ingin Gairahkan Ekonomi Kerakyatan di masa Pandemi Covid-19 ?

Payakumbuh.metroindonesia.id- Banyak pihak, curiga serta persoalkan, “ada apa dibalik Festival Pasar Ekonomi Kreatif (PEK) 2020, yang dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Barat dan Pemko Payakumbuh di objek wisata Batang Agam, ditengah- tengah berjangkitnya wabah pandemi Corona Virus Disease- 19.

Padahal, Presiden Joko Widodo saat memimpin rapat terbatas untuk membahas laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin pagi, 16 November 2020, sampaikan “Saya tegaskan bahwa keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Anggaran Rp 900.000.000 Harus bisa di buktikan bisa pulihkan ekonomi dalam tempo 1 bulan

Pada masa pandemi ini telah kita putuskan pembatasan-pembatasan sosial termasuk di dalamnya adalah pembubaran kerumunan,” ujarnya.

Namun, Pemprov Sumatera Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaannya, terkesan lakukan pembangkangan. Pasalnya, melalui Event Organizer (EO) Komunitas Masyarakat Peduli Seni dan Budaya (MPSB) Kota Payakumbuh gelar Event dengan kemasan “Pasar Ekonomi Kreatif (PEK) 2020.

Pesta rakyat berbasis ekonomi itu berlangsung di kawasan objek wisata Batang Agam, depan Taman Hidroponik. Acara tersebut akan digelar selama sebulan terhitung sejak 14 November hingga 13 Desember 2020. MPSB ingin menggairahkan ekonomi kerakyatan di tengah pandemi covid-19.

Pantau jika ada peningkatan warga terkena Covid – 19  Siapa yang harus bertanggung jawab.

Ternyata kepercayaan itu disambut hangat pemko, dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Hanya saja, dalam era pandemi covid-19, kendati izin acara tidak dikeluarkan pihak berkompeten kepada MPSB.

Meskipun setengah hati, Wakil Walikota Erwin Yunaz, ketika memimpin rapat persiapan Event PEK, di ruang pertemuan randang, Jumat (6/11), meminta pihak komunitas MPSB, untuk tidak mencederai protokol kesehatan selama event tersebut. Meski tidak memberikan izin tertulis, tapi Satgas Covid-19 Payakumbuh tetap memberikan rekomendasi, MPSB menggelar acara, demikian pinta Erwin.

“Jangan sampai ada klaster baru dalam event pasar kreatif ini. Kita tak ingin, dampak acara menambah peningkatan jumlah positif covid-19 di Payakumbuh,” tegas wawako.

Nada yang sama juga disampaikan Forkopimda Payakumbuh. Kapolres. kajari dan dandim 0306/50 Kota, meminta seluruh unsur MPSB benar-benar komitmen dengan perjanjian yang dibuat dalam event tersebut. Satgas Covid-19 hanya merekomendasikan, gelar acara berlangsung dari pukul 16.00 sore hingga 20.00 malam.

Rapat dipimpin langsung Sekdako Payakumbuh H. Rida Ananda itu, juga meminta pihak MPSB, juga bertanggung jawab dengan penerapan protokol kesehatan di luar kawasan pasar kreatif atau lomba gamad.

Ketua Komunitas Masyarakat Peduli Seni dan Budaya Payakumbuh, Deni Rao, melaporkan, event yang digelar berupa pagelaran makanan spesifik dari 10 nagari di Payakumbuh serta festival gamad se Sumatera Barat.

Gelar acara yang dikemasnya, bakal menjadi contoh di tingkat nasional, dalam hal penerapan protokol kesehatan. “Kita ingin, ajang pasar ekonomi kreatif dan festival gamad, menjadi contoh nasional dalam penerapan protokol kesehatan,” ucap Deni.

Selain menggairahkan ekonomi kerakyatan di tengah pandemi covid-19 dan menanamkan rasa cinta generasi muda terhadap kesenian mingkabau, seperti gamad ini, sebut Deni.

Makanya, luas kawasan pasar ekonomi kreatif 100 x 100 meter itu, di pinggir Sungai Batang Agam, hanya berjarak 100 meter dari Jembatan Ibuah itu, hanya boleh diisi 50 penonton dan 50 peserta bersama panitia.

Ditempat terpisah, Kadispapora Sumatra Barat, Novrial keterangan kepada wartawan Rabu 18/11/2020, mengatakan acara itu telah di sesuaikan dengan protokol Covid, dengan Anggaran APBD Provinsi kalau tidak salah Rp.900 juta dan ini adalah rangkaian sub kegiatan kepariwisataan Sumbar,” ungkapnya.

Rakyat butuh penjelasan yang di maksud ekonomi kreatif seperti apa ?

Terlepas dari itu Fadli Lidra Owner Sayak.co yang juga pelaku industri kreatif mengatakan,” festival Ekraf atau Ekonomi kreatif ini sangat, sangat terkesan di paksakan dan acara nya dinilai tidak jelas tujuan nya.

Dikatakan, jika berbicara ekonomi kreatif, Payakumbuh memang gudang nya penggiat Ekonomi kreatif, tapi penggiat Ekonomi kreatif, untuk saat sekarang tidak butuh festival. Mereka butuh kan bagaimana keseriusan Pemerintah untuk menangani pandemi Covid – 19. Kini kok malah berpotensi menciptakan klaster baru, heran Fadli.[]EB