Mediasi Pertama Gagal, Kasus Lahan Seluas 102 Meter Lokasi Di Jalan Merapi Depok Timur

Mediasi Pertama Gagal, Kasus Lahan Seluas 102 Meter Lokasi Di Jalan Merapi Depok Timur

DEPOK, Metro Indonesia.id,- Akibat Maya Farida meminjam uang sebesar Rp 300 juta dari SLS, berikut bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 102 meter, ditenggarai persoalan

Subyek masalah sengketa lahan yang berujung menjadi sengketa sebagai berikut ;

Surat ukur tanah No, 3932/988 tanggal 8 februari 2088, berdasar pendaftaran tanah yang ada pada kantor BPN Kota Depok yang diterbitkan sertifikat atas nama Nyonya LSS, jenis dan No hak milik No.4633/Abadijaya lahan dan banhunan seluas 102 m2.

Catatan pada buku tanah, pencatatan, peralihan hak berdasarkan akta jual beli (AJB) tanggal 12 Maret 2020 atas nama nyonya SLS.

Dalam surat keterangan pendaftaran tanah tersebut diterbitkan atas nama Maya Farida tanggal 10 Agustus 2020 bwralamat jalan Merapi Raya No 34 Rt 07/09 Kel, Abadi Jaya, Kec, Sukmajaya percil 7/34.

Menurut Bona Silaban selaku pengacara dari Maya Farida pemilik lahan yang meminjam uang itu menjelaskan, permasalahannya adalah soal utang piutang di antara kedua belah pihak katanya kepada awak media, Selasa (13/10/2020) usai menghadiri acara mediasi di kantor Badan Pwrtanahan Nasional (BPN) jalan Boulevard.

Bona terangkan bahwa, surat tanah itu menjelma, peralihan menjadi sertifikat atas nama SLS herannya.

Ironisnya lagi ada 2 kepemilikan diatas lahan 102 meyer tersebut, padahal yang di minta oleh klien kami berapa hutangnya, padahal hanya 300 juta, sedangkan yang kita jumlahkan hanya 218 juta sekian itu pun hasil dari penjualan rumah termasuk dari biaya lainnya tandas Bona.

“itukan hanya masalah utang piutang, kenapa tiba – tiba menjelma dijadikan peralihan balik nama” imbuhnya.

Bona berharap, di mediasi yang pertama gagal dam akan di mediasi untuk yang ke dua nanti, akan dapat menemukan solusi yang terbaik harapnya.

” klien saya akan membayar hutangnya, itupun sesuai kemampuannya nanti ujarnya.

Di tempat terpisah, Ujang Rukwan Kasubsie sengketa konflik dan perkara Badan pertanahan Nasional (BPN) Cabang Kota Depok saat ditemui wartawan ini menuturkan, mediasi pertama ini, kita belum bisa menemukan solusinya secara langsung
dari pihak ibu maya sendiri, dan persoalan ini juga pihak ibu maya sudah menyatakan ingin mengembalikan uang yang dipinjamnya, asal sesuai yang di terima pungkasnya.

Sementara dari pihak ibu sari itu belum memberikan angka penggantian, karena uang yang dipinjam ibu maya udah tiga tahun belum di , lunasi juga malah diminta tiga kali lipat pembayaran utang ibu maya sebut ujang.

Pada saaat mediasi pertama, ibu sari keluar atau yang di sebut Decklook out karena ibu maya melontarkan biaya yang lampau, yang sudah – sudah di keluarkan pembiayaannya yang dipinjam.

lebih lanjut kata Ujang, karena ibu maya otik atik atas haknya, kelihatannya bu sari marah besar,.

Hal itupun juga sudah disampaikannya kepada notarisnya Bpk deni dan ibu Yosephina, supaya disampaikan berapa nominal angkanya.

“Saya juga sudah meminta kepada kedua belah pihak, karena ini adalah masalah utang piutang, sebab menurut ibu sari katanya telah memberikan pinjaman selama 3 tahun untuk membantu ibu Maya, namun
selama 3 tahun bu maya tidak ada niat untuk membayar, sehingga, ibu sari balik nama saja sertifikatnya

Saya sudah baik dari awal kalau saya jahat dari awal aja saya jahat
Ibu Maya Farida itu tidak merasa menandatangani sertifikat itu bahkan perlembar dari pihak notaris tentu membacakan isi surat teraebut yang ditandatangani oleh mereka. alasan dari ibu Maya, karena lahan itu adalah satu – satunya warisan dari almarhum suaminya

Persoalan ibu maya dengan ibu sari akan kembali di mediasi untuk keduakali dan akan diiagendakan katanya.

Pasalnya, Akibat pinjam uang dari SLS, tanah milik FM nyaris bisa melayang. .(Yf)

A. Rachman

Organisasi Serikat Pers Republik Indonesia Bersertifikat assesor BNSP RI. Pengurus di KOWARI