Pimpinan CV. Anindya Penuhi Panggilan Polisi

Jakarta, metroindonesia.id – Pimpinan perusahaan CV. Anindya Jaya Lestari, Lasmino penuhi panggilan penyidik Polres Jakarta Selatan berdasarkan surat undangan klarifikasi nomor : B/9275/X/2020/Reskrim.jumat, 9/10.

Pemanggilan terkait atas laporan Polisi nomor : LP/5603/IX/YAN.2.5/2020 yang dilaporkan pimpinan perusahaan CV. Anindya Jaya Lestari atas dugaan penipuan dan pengelapan yang dilakukan oleh tenaga ahli/consultan (diragukan kebenarannya) berdasarkan surat kesepakatan kerja yang di tanda tangani oleh kedua belah pihak pada tanggal 1 Juli 2020 lalu.

Dalam wawancara khusus dengan dengan metroindonesia,  lasmino selaku korban menyampaikan awal kronologi kenal dengan pelaku melalui seorang pegawai Aparatur Sipil Negara  (ASN) yang bekerja di  salah satu instansi pemerintah dibilangan Kebon Sirih Jakarta Pusat bersama rekannya yang tenaga honor di instansi tersebut.

Dalam kasus ini yang menarik, korban sebelumnya sudah mengenal pelaku di pabrik pengemasan minyak goreng di kawasan cibitung, bekasi. Saat itu korban bersama tetangga dari ASN di bilangan Tapos Depok.

Di dalam perjalanan kesepakatan kerja terasa aneh, ketika korban mulai di arahkan pelaku untuk membeli 3 unit mesin kemas yang tidak ada dalam kesepakatan/perjanjian kerja, kemudian korban juga di arahkan untuk mulai produksi kemas minyak goreng di tempat awal bertemu bersama tetangga ASN.

Lagi lagi korban di rugikan dengan biaya kemas yang mahal, hasil produksi yang berkurang, bahkan korban tidak mengetahui merk minyak goreng yang digunakan milik siapa ? Dan tidak sampai di situ saja, pegawai honor yang bekerja satu instansi dengan ASN ikut memasarkan produksi minyak goreng dengan cara membeli tapi tidak melakukan pelunasan.

Karena merasa dirugikan, korban meminta pelaku “DS” mengembalikan selisih uang pembelian mesin yang harganya di mark up, dan mengembalikan uang jasa consultan sebesar Rp 200.000.000, tapi entak kenapa pelaku hanya sanggup  mengembalikan uang dari selisih harga mesin, untuk pengembalian uang jasa consultan pelaku menjaminkan 1 unit kendaraan Xenia Hitam milik PT. TPI selama 1 bln kedepan.

Dari waktu yang telah disepakati, pelaku bukannya mengembalikan uang jasa yg tidak pernah ada, malah mengirim surat somasi melalui pengacara dari Karawaci dengan tuduhan korban telah melakukan perampasan mobil, yang pada akhirnya korban mengembalikan unit kendaraan dan melayangkan 2 kali somasi ke pelaku dan tidak pernah di jawab.

Berdasarkan surat somasi, pelaku di anggap tidak beritikad baik untuk menyelesaikan masalah atas kerugian yang di alami korban, maka pada bln september kemarin korban melaporkan pelaku dengan pasal 372 – 378, dan tidak menutup kemungkinan ada pengembangan di pasal 379a.   “barangsiapa membuat pencahariannya atau kebiasaannya membeli barang-barang dengan maksud supaya ia sendiri atau orang lain mendapat barang-barang itu dengan tidak melunaskan sama sekali pembayarannya, dihukum penjara selama-lamanya empat tahun.” [] Red.